Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Info Sehat


“Saya merasa hak dan kewajiban saya sama dengan orang lain”. Begitu kalimat yang diutarakan Arisman (38th), peyandang tuna netra ketika ditemui relawan MRI-ACT dikediamannya.
Dalam rangka memperingati Hari Guru yang jatuh pada tanggal 25 Desember MRI-ACT mengunjungi salah seorang tenaga pengajar Panti Sosial Bina Netra (PSBN) Tuah Sakato yang memiliki kepercayaan diri dan semangat tinggi. Meskipun tidak bisa melihat beliau mampu hidup mandiri dan beraktifitas seperti biasa.
Dengan keterbatasan yang dimilikinya sejak kecil tidak membuat Arisman merasa rendah diri. Hal ini dibuktikan dengan ia mengenyam pendidikan formal disekolah umum pada tingkat SMP dan SMA. Selain itu ia aktif berorganisasi dan terpilih menjadi ketua DPD Pertuni (Persatuan Tuna Netra Indonesia).
Sebelum menjadi pengajar, pria kelahiran tahun 1979 ini terlebih dahulu mengambil keterampilan pijat di PSBN kemudian membuka klinik pijat sendiri. Selang beberapa waktu tepatnya tahun 2015 Arisman diminta untuk mengajar keterampilan pijat shiatsu kepada murid binaan disana. Sehari-hari beliau berangkat bersama istrinya yang juga bekerja disana sebagai staf TU.
“Pak Aris merupakan salah satu penyandang tuna netra yang berhasil. Terbukti dengan beliau bisa membuka usaha, membina rumah tangga, dan mengembangkan ilmunya”, ujar Kamisar Kamus, Kepala PSBN Tuah Sakato Padang.
Arisman memiliki tiga orang anak yang disekolahkan di sekolah islam agar bisa menjadi hafidz dan hafidzah. Pagi sebelum mengajar, ia bersama istri menggunakan motor mengantar anak-anak kesekolah. Sudah menjadi keharusan tepat pukul 6.15 WIB mereka sudah harus berangkat dari rumah. Arisman berjalan digandeng oleh anaknya menuruni anak tangga dan dibantu sebuah tongkat menuju halaman.
Rumah yang juga dijadikan tempat Arisman membuka klinik pijat berada di pinggir jalan Anduring. Jika tidak mengajar ia menerima orang datang untuk dipijat tak jarang juga beliau yang mengunjungi rumah pelanggannya.
Seperti yang dikatakannya, ia tak merasa berbeda dengan orang kebanyakan. “yang rusak hanya penglihatan saya saja. Lainnya berfungsi normal”, ucapnya. Arisman mengukuti perkembangan zaman. Pria yang hobi musik ini mahir menggunakan android sebagai alat komunikasinya. Dibantu aplikasi khusus memudahkan ia berinteraksi dengan banyak orang dan membuat ia semakin mandiri. (na)


Top