Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Info Sehat

SuryaNews911.JAKARTA -- Debat pilkada DKI Jakarta terakhir yang digelar pada Jumat (10/2) kemarin dapat meningkatkan elektabilitas masing-masing pasangan calon. Debat pilkada terakhir tersebut, menjadi momentum yang dapat mengambil suara pemilih yang belum menentukan pilihan atau undecided voters. Hal ini dikatakan Pengamat politik Universitas Gadjah Mada (UGM) Arie Sujito, saat dihubungi, Ahad (12/10).

"Memang kandidat punya loyalis voters, tapi banyak juga suara mengambang. Tiga kali debat juga cukup membantu konfigurasi pemilih suara mengambang. Dalam konteks ini memang suara pengambang akan memberi pengaruh," kata Arie.

Arie juga menilai debat terakhir tersebut juga dapat merebut suara dari pasangan calon lain sehingga dapat menaikkan tingkat elektabilitas. Debat tersebut, kata dia, dapat mencuri suara dari kalangan masyarakat kelas menengah. "Segmennya beda-beda, kalau menengah itu terpengaruh. Sementara grassroot rata-rata mereka loyalis masing-masing kelompok," ujarnya.

Arie menjelaskan, pendukung loyalis masing-masing kandidat cukup besar. Sedangkan, para kandidat juga melakukan manuver-manuver untuk meraih kemenangan. Sehingga, Arie menilai, masing-masing kandidat sama-sama memiliki peluang untuk menang.

Meski dalam aturan saat masa tenang menjelang pilkada dilarang untuk berkampanye, namun Arie menilai masih ada kampanye-kampanye yang dilakukan. Karena itu, menurutnya, masyarakat juga harus turut menjaga penyelenggaraan pilkada agar tak menjadi konflik atau tercipta kerusuhan. Berbagai macam bentuk propaganda maupun provokasi pun perlu dihindari. "Saya rasa secara formal gak boleh kampanye, tapi sebenarnya masih ada. Saya pesan untuk tidak masuk dalam propaganda dan provokasi. Yang kedua, pemilukada damai jangan ada rusuh," kata dia.(nn/rol)


Top