Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Info Sehat

Suryanews911.com, -- Tidak semua negara di Afrika tercabik-cabik konflik. Ingar-bingar pemberitaan tentang kekerasan tampaknya tak menyentuh Gabon, negara kecil yang terletak di Afrika Barat. Sebab, berbeda dengan kebanyakan negara yang masih berkutat dengan derita dan bencana konflik, Gabon justru fokus membangun negara dan bangsa.

Sebagian analisis menyatakan, negara ini mampu memanfaatkan potensi sumber alamnya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Segenap unsur masyarakat pun bahu-membahu mewujudkan pembangunan di segala bidang.

Selain itu, negara benar-benar memerhatikan kehidupan beragama. Tiap-tiap organisasi keagamaan akan mendapatkan bantuan operasional, pembebasan pajak bagi impor barang-barang keperluan tertentu, atau kemudahan dalam pengadaan lahan untuk pembangunan rumah peribadatan.

Pemeluk Islam, Katolik, dan Protestan diperkenankan mendirikan sekolah agama yang pengawasannya dilakukan langsung oleh Departemen Pendidikan. Mereka juga memiliki hak yang sama untuk menyiarkan agama masing-masing melalui media cetak dan elektronik.


Pemerintah juga memfasilitasi pertemuan periodik antarpemimpin agama. Kegiatan semacam ini bisa digelar secara tahunan ataupun dua tahunan. Tujuannya adalah demi meningkatkan kerja sama dan saling pengertian antaragama. Hari besar agama pun ditetapkan sebagai hari libur nasional.

Kebijakan yang ditempuh cukup efektif mengeliminasi potensi konflik di tengah masyarakat. Laman state.gov menyatakan, pihaknya juga tidak menemukan kasus pemaksaan agama, demikian pula tidak adanya penahanan karena alasan etnis atau agama.

Sosok sentral di balik pencapaian itu tak lain adalah Presiden Al Hadj Omar Bongo. Dia dilahirkan di Lewai pada 20 Desember 1935 dengan nama Albert Bernard Bongo. Omar Bongo memegang tampuk kepemimpinan sejak tahun 1967 ketika menggantikan presiden sebelumnya, Leon Mba.

 Kontroversi segera mengiringi perjalanan kepemimpinan Albert Bongo. Ia menetapkan negara dengan sistem partai tunggal. Partai tersebut menguasai parlemen hingga beberapa dekade. Menurutnya, di Afrika, pemerintahan terpusat lebih baik daripada demokrasi karena masih kentalnya kesetiaan suku.

Tahun 1973, Albert Bongo mengejutkan seluruh rakyat Gabon, bahkan juga Afrika. Dia mengumumkan dirinya telah menjadi Muslim. Usai menunaikan ibadah haji, dia kemudian mengganti namanya menjadi Al Hadj Omar Bongo. Tahun 2003, Omar Bongo menambahkan namanya dengan Ondimba.

Banyak versi yang mengemuka terkait alasannya berpindah keyakinan. Ada yang menyatakan bahwa itu karena pengaruh sejawatnya di Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC). Sebagian berargumen, Omar Bongo terkesan dengan sikap umat Muslim yang toleran, ramah, dan cinta damai.

Keputusan tersebut kontan memancing kemarahan kalangan non-Muslim. Mereka tidak bisa menerima dipimpin oleh seseorang yang beragama Islam, yang notabene adalah agama minoritas. Sejumlah aksi unjuk rasa digelar yang memintanya meletakkan jabatan.

Omar Bongo bergeming atas desakan ini. Dia bertekad untuk tetap menjalankan pemerintahan dengan sebaik-baiknya demi meningkatkan kesejahteraan. Sejarah mencatat, dia mampu menggerakkan roda perekonomian negara dengan memanfaatkan segenap potensi sumber daya yang dimiliki, terutama minyak bumi dan emas.

Selain itu, dia juga dikenal sebagai tokoh perdamaian. Omar Bongo pernah sukses dalam memecahkan masalah di negara-negara sekitar, antara lain di Republik Afrika Tengah, Congo-Brazzaville, Burundi, dan Democratic Republic of Congo. 

Prestasi ini pada akhirnya meletakkan pengaruh besar terhadap tata nilai masyarakat. Seiring perjalanan waktu, kalangan yang tadinya antipati berubah memercayainya dan tidak khawatir lagi dengan kepemimpinan dari seorang Muslim.

Hal itu terbukti ketika Omar Bongo mendapat kepercayaan dalam meneruskan kepemimpinan untuk kali ketujuh pada tahun 2005. Dalam pemilu yang digelar, dia mendapat dukungan mayoritas atau 80 persen sekaligus mengungguli para pesaingnya.

Tampilnya Omar Bongo sebagai orang nomor satu di negara itu memberikan berkah tersendiri bagi umat Muslim setempat. Islam pun berkembang pesat. Jumlah pemeluknya bertambah, dari semula hanya dalam hitungan ribuan hingga menjadi belasan ribu.

Seiring dengan itu, lembaga pendidikan, tempat ibadah, dan organisasi Islam juga mengalami pertumbuhan signifikan. Kendati begitu, Omar Bongo tak lantas mengabaikan umat agama lain. Dia menginginkan terciptanya keharmonisan dan toleransi antarumat beragama demi mempertahankan stabilitas negara.
(sumber:republika)


Top